Cuaca ekstrem semakin sering terjadi di Indonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, hujan dengan intensitas tinggi melanda berbagai wilayah seperti Sumatera dan Aceh, menyebabkan banjir dan longsor yang berdampak luas pada kehidupan masyarakat. Tidak hanya merusak pemukiman dan fasilitas umum, kondisi ini juga mempengaruhi infrastruktur air bersih, yang menjadi kebutuhan dasar sehari-hari.
Perubahan tata guna lahan turut memperbesar risiko bencana. Ketika banjir dan longsor terjadi, infrastruktur air bersih mulai dari sumber air baku hingga akses jaringan perpipaan ikut terdampak. Akibatnya, masyarakat justru mengalami krisis air bersih di tengah air yang melimpah.
Infrastruktur air memegang peranan penting dalam menjaga ketersediaan air bersih yang aman dan berkelanjutan. Berdasarkan laporan World Bank tahun 2021 mengenai penguatan ketahanan air di Indonesia, bencana yang paling sering mengganggu infrastruktur air bersih adalah kekeringan dan curah hujan tinggi, selain gempa bumi dan tsunami. Infrastruktur ini mencakup sumber air baku, instalasi pengolahan air (IPA), reservoir, serta jaringan perpipaan distribusi.
Dampak Curah Hujan Ekstrem terhadap Infrastruktur Air Bersih
Perubahan pola iklim menyebabkan periode hujan menjadi lebih singkat namun dengan intensitas yang jauh lebih tinggi. Curah hujan, cuaca ekstrem seperti ini meningkatkan risiko banjir dan longsor yang berdampak langsung pada sistem penyediaan air bersih.
Banjir dapat merusak bangunan intake dan meningkatkan tingkat kekeruhan air baku. Air dengan kekeruhan tinggi berisiko merusak pompa serta mengganggu proses pengolahan. Dalam banyak kasus, instalasi pengolahan air terpaksa dihentikan karena kondisi air baku sudah melampaui kapasitas desain pengolahan standar. Bahkan tak jarang menyebabkan kerusakan sistem.
Selain itu, hujan deras dan banjir juga mempengaruhi kestabilan tanah yang mengakibatkan terjadinya longsor, terutama di wilayah lereng atau tanah dengan kestabilan rendah. Longsor yang terjadi dapat merusak jaringan perpipaan, menyebabkan kebocoran atau bahkan terputusnya distribusi air bersih ke masyarakat.

Gambar kerusakan pada Infrastruktur Air Bersih: (a) Banjir menyebabkan putusnya jaringan pipa
(b) Bendung karet Jebol (c) Tingkat kekeruhan Air Baku yang Tinggi
Dampak Musim Kemarau Panjang pada Sistem Penyediaan Air
Di sisi lain, musim kemarau yang berlangsung lebih panjang juga membawa tantangan serius. Penurunan debit dan kuantitas air baku membuat proses pengolahan dan distribusi air terganggu, bahkan bisa berhenti sepenuhnya di beberapa wilayah.
Saat infrastruktur air bersih tidak beroperasi dalam waktu lama, lumut dapat tumbuh pada bangunan intake maupun instalasi pengolahan. Kondisi ini berpotensi menurunkan kualitas sistem dan meningkatkan biaya perawatan saat operasional kembali berjalan.
Udara yang kering dan suhu tinggi juga mempercepat proses korosi, terutama pada peralatan berbahan logam seperti pompa, valve, dan pipa. Korosi menyebabkan penurunan kinerja peralatan, memperpendek umur pakai, serta berpotensi mempengaruhi kualitas air. Selain itu, karat dapat mengurangi kekuatan mur dan baut akibat penipisan material, yang berisiko menyebabkan kegagalan struktur, khususnya pada instalasi dengan sambungan baut seperti jembatan pipa.

| Sumber: | PSDMAGAZINE.ORG, July/August 2016 |
| Korosi pada Valve dan Pipa Galvanis yang Kering |
Dampak lainnya terjadi pada pipa yang tertanam di tanah lempung. Jenis tanah ini memiliki sifat kembang-susut yang tinggi. Saat kadar air tanah menurun, tanah akan menyusut dan membentuk rongga di sekitar pipa. Dalam kondisi tersebut, pipa menjadi lebih rentan terhadap beban, terutama di area dengan lalu lintas kendaraan, sehingga berisiko mengalami retak atau patah.

| Sumber: | 2013, Chan |
| Pergerakan Pipa di dalam Tanah selama Musim Kemarau |
Adaptasi Infrastruktur Air Bersih terhadap Perubahan Iklim
Pengalaman global menunjukkan bahwa adaptasi terhadap perubahan iklim menjadi kunci dalam menjaga ketahanan infrastruktur air. Badai Yolanda yang melanda Filipina pada tahun 2013, misalnya, menyebabkan terputusnya akses air bersih dalam skala besar. Peristiwa ini mendorong pemerintah untuk memasukkan risiko iklim sebagai faktor utama dalam perencanaan infrastruktur air.
Dalam perencanaannya, berbagai aspek dipertimbangkan, mulai dari variabilitas iklim saat ini dan di masa depan, potensi cuaca ekstrem, pemilihan lokasi infrastruktur, fungsi dan umur rencana, hingga pemilihan material konstruksi yang lebih tahan terhadap kondisi ekstrem.
Pendekatan serupa juga diterapkan di Amerika Serikat melalui perbaikan dan pembaruan infrastruktur pengolahan air yang sudah tidak layak. Dengan perencanaan yang matang dan penilaian risiko yang komprehensif, infrastruktur yang dibangun diharapkan mampu menghadapi dampak perubahan iklim jangka panjang. Strategi ini tidak hanya meningkatkan ketahanan sistem air bersih, tetapi juga lebih efisien secara biaya dalam jangka panjang.