Ciri – Ciri Sambungan Pipa PP-R Yang Baik

Ciri – Ciri Sambungan Pipa PP-R Yang Baik

Sebagian masyarakat pasti sudah sering melihat atau familiar dengan Pipa PP-R. Pipa PP-R yang terdapat di Indonesia identik dengan pipa yang berwarna hijau dimana bahan dasar dari Pipa PP-R tersebut adalah Polypropylene Random Type III. Pipa PP-R ini memiliki karakteristik yang cukup unik dibandingkan dengan pipa yang lainnya yaitu dapat menahan tekanan serta suhu yang tinggi maupun rendah. Karena karakteristik tersebut pipa ini banyak di cari oleh masyarakat untuk digunakan pada instalasi air bersih maupun air panas sehingga sangat cocok di gunakan pada rumah tinggal, hotel, apartemen, dan yang lainnya.

Dikarenakan material Pipa PP-R ini berbahan plastik dari minyak bumi sehingga cara penyambungannya pun berbeda dengan Pipa PVC yang menggunakan solvent cement. Proses penyambungan Pipa PP-R menggunakan sistem penyambungan heat fussion yang menggunakan alat pemanas. Sistem ini memanfaatkan dari sifat thermoplastik yang mudah meleleh jika dipanaskan dan hasil dari sambungan tersebut akan homogen atau senyawa. Karena sifatnya tersebut para aplikator harus berhati –hati pada saat proses penyambungan Pipa PP-R agar tidak mudah bocor nantinya setelah di instal.

Ada beberapa ciri – ciri yang dapat dilihat secara visual untuk mengetahui sambungan Pipa PP-R yang baik :

  1. Bead up yang merata

Karena proses penyambungan Pipa PP-R menggunakan sistem heat fussion dengan menggunakan alat pemanas maka saat pipa di sambungkan dengan socket fitting akan menghasilkan lelehan (beat up) yang keluar. Pada saat proses penyambungan tersebut diusahakan agar lelehan (beat up) yang dihasilkan merata dan memiliki ketebalan beat up yang sama. Bila ketebalan lelehan (beat up) yang dihasilkan tidak sama dikhawatirkan akan ada rongga udara sehingga menyebabkan kebocoran.

  1. Tidak terjadi penguncupan didalam

Sebelum melakukan proses penyambungan, ada beberapa langkah – langkah yang dianjurkan agar nantinya menghasilkan sambungan yang baik. Salah satu langkah – langkah tersebut adalah membuat tanda (marking) kedalaman socket fitting di badan pipa. Setelah para aplikator membuat tanda kedalaman socket fitting di badan pipa, pastikan pada proses penyambungan tanda tersebut terlihat. Saat proses pipa disambungkan ke socket fitting diusahakan untuk memberikan jarak 1 – 2mm dari marking tersebut. Tujuan dari pengurangan tersebut adalah agar pipa yang disambungkan dengan socket fitting tidak sampai menyentuh stopper yang terdapat di dalam socket tersebut sehingga lelehan (beat up) yang terdapat didalam socket tidak menutup dan menguncup. Bila lelehan (beat up) tersebut menguncup maka aliran air yang terdapat didalam fitting tersebut akan terhambat.

  1. Melakukan pengetesan

Setelah proses penyambungan selesai dan pipa telah terinstal untuk memastikan apakah pipa tersebut ada kebocoran atau tidak maka sebaiknya melakukan pengujian hidrostatik terlebih dahulu. Berdasarkan SNI 8153:2015 – “Sistem Plambing Pada Bangunan Gedung” disarankan pengujian hidrostatik sekurang – kurangnya 2 kali tekanan kerja maksimum sesuai dengan tinggi gedung yang dilayani dengan jangka waktu selama 30 menit dan tanpa adanya kebocoran dan penurunan tekanan uji. Pengujian tersebut lebih baik dilakukan sebelum di timbun atau tertutup.

Ciri – ciri tersebut hanya bisa dilihat secara visual dan alangkah lebih baik bila para aplikator melakukan proses penyambungan Pipa PP-R dengan melakukan first time right. Mengikuti langkah – langkah yang telah dianjurkan baik saat proses pemanasan hingga proses pendinginan agar mendapatkan hasil yang maksimal.

SHARE

rucikaadmin

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Blog Terkait

BLOG

NEWS

Load More

TERBARU

Scroll to Top