21 Juli 2022,

admin_rucika

Dampak Penggunaan Air Tanah yang Berlebihan

Air bersih merupakan elemen paling penting untuk makhluk hidup. Kebutuhan air bersih pada tahun 2020 menurut Badan Pusat Statistik sebesar 97,3 juta m3 untuk sosial, 163,6 juta m3 untuk khusus, 456,3 juta m3 untuk bidang niaga dan industry, 2.917,7 untuk bidang non niaga dan 715,2 juta m3 untuk lainnya. Sedangkan produksi air bersih pada tahun 2020 sebesar 5262,1 m3.

Komposisi air di permukaan bumi sebesar 71% dan 29% daratan. Dari komposisi tersebut sebanyak 97% adalah air salin dan 3% merupakan air non salin yang diklasifikasikan menjadi 68.7% es dan gletser, 30.1% adalah air tanah dan 0.9% merupakan air permukaan. Air bersih yang digunakan sehari hari diambil dari air permukaan, yang meliputi sungai, waduk, bendungan, dan juga air tanah, yang berasal dari aquifer. Sebanyak 80% kebutuhan air bersih rumah tangga diambil dari sumber air tanah, terutama di daerah urban.

Berdasarkan data dari Dinas Perindustrian dan Energi DKI Jakarta jumlah pengguna air tanah sebesar 8.155.282 m3 pada tahun 2018 dan 6.693.949 m3 hingga bulan September 2019, dan kenaikan tertinggi pada tahun 2018 terjadi pada bulan April sebesar 1.372.055 m3 dan tahun 2019 terjadi pada bulan Juni sebesar 1.750.822 m3.

Penggunaan Air Tanah
Sumber: statistik.jakarta.go.id

Penggunaan air tanah yang berlebihan menyebabkan terjadinya kelangkaan air tanah dan juga penurunan permukaan tanah. Hasil pemantauan dari Badan Konservasi Air Tanah (BKAT) Kementerian ESDM tahun 2016 menunjukkan, dari 26 titik pemantauan di Jakarta, 22 titik atau 85 persen yang mengalami penurunan muka tanah hingga 12 cm. Hanya ada empat titik atau 15 persen yang mengalami kenaikan dengan angka hingga 5 cm.

Sebelum dan sesudah pengambilan air tanah
Sumber: https://perumdatirtapatriot.co.id/

Penurunan permukaan tanah tersebut menjadi ancaman tersendiri bagi warga di pesisir pantai karena meningkatkan ancaman rob di masa mendatang. Intrusi air laut tersebut dapat terjadi melalui sungai, saluran drainase, atau aliran bawah tanah. Penyebab banjir rob juga didukung dengan adanya pembangunan di kota besar dan mencairnya gletser. Jika hal ini tidak diatasi dengan baik, sangat mungkin jika terjadi penurunan permukaan tanah sebesar 3-5 meter dibawah permukaan tanah pada tahun 2030 untuk wilayah Jakarta Utara.

 

ARI

Share This Post :

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

OUR PRODUCTS

SORT BY

OUR PROJECTS