Drainase Kota dan Penerapan Sistem Pengendalian Banjir di Jepang

Drainase Kota dan Penerapan Sistem Pengendalian Banjir di Jepang

Drainase merupakan suatu elemen yang penting dalam perencanaan infrastruktur kota karena berhubungan erat dengan sanitasi dan kenyamanan pemukiman. Drainase sendiri didefinisikan sebagai pembuangan massa air baik secara alami maupun buatan dari suatu permukaan atau dibawah permukaan suatu tempat. Di perkotaan sistem drainase digunakan untuk mengalirkan air dari suatu lokasi agar lahan tersebut dapat berfungsi secara maksimal.

Sistem drainase sebuah kota dibagi menjadi 3 berdasarkan pelayanannya, yaitu:

  1. Sistem drainase lokal (minor urban drainage), merupakan sistem drainase yang hanya melayani pada suatu kawasan tertentu saja, seperti pemukiman, area komersial, perkantoran, pasar, dll.
  2. Sistem drainase utama (major urban drainage), merupakan sistem drainase primer, tersier, sekunder dan sarana pendukung lainnya guna memenuhi kepentingan seluruh masyarakat. Pada drainase utama pengelolaannya dilakukan oleh pemerintah kabupaten atau kota setempat.
  3. Sebagai pengendalian banjir (flood control), drainase memiliki fungsi mengalirkan air hujan agar tidak menggenangi perkotaan yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat. Adapun konstruksi drainase dalam upaya pengendalian banjir diantaranya:
  • Tanggul
  • Kanal
  • Saluran air

Dengan kondisi geografisnya menyebabkan Jepang sering dilanda bencana alam diantaranya gempa bumi, angin topan, dan banjir membuat pemerintah jepang menganggarkan 6%-7% dari anggaran nasional untuk mitigasi bencana alam. Di kota Tokyo terdapat Katedral yang mampu melindungi kota dari banjir, dengan kedalaman 50 meter di bawah permukaan tanah, Katedral banjir memiliki pilar seberat 500 ton dengan tinggi 65 meter dan diameter 32 meter untuk menyangga langit langit, dan memiliki panjang 6,4 Km.

Metropolitan Area Outer Underground Discharge Channel, Sumber: Wikipedia
Metropolitan Area Outer Underground Discharge Channel

Katedral banjir ini dibangun selama 13 tahun dan baru selesai pada tahun 2006, memakan biaya hingga 2 juta Dollar Amerika. Lokasi Katedral Banjir ini berdampingan dengan jalur kereta bawah tanah dan juga jaringan pipa gas kota. Pembangunannya membutuhkan waktu selama 13 tahun dan baru selesai pada tahun 2006 dengan total biaya pembangunan hingga 2 juta Dollar Amerika. Dilengkapi dengan 79 pompa dan 59 pillar beton membuat Katedral banjir memungkinkan air sebanyak 200 ton untuk mengalir per detiknya. Katedral banjir menyedot air dari sungai berukuran menengah dan berukuran kecil kemudian memindahkannya ke sungai Elo yang memiliki kapasitas lebih besar, sehingga mencegah air meluap pada sungai tersebut.

Katedral banjir merupakan salah satu contoh dari drainase yang digunakan sebagai fasilitas pengendalian banjir dan mitigasi bencana di Jepang, menurut anda apakah kita bisa mengoptimalkan penggunaan drainase sebagai pengendalian banjir sebagaimana yang telah dilakukan oleh Jepang? Semoga di masa depan Indonesia mampu memiliki fasilitas drainase kota yang sangat memadai sehingga dapat digunakan sebagai sarana mitigasi bencana banjir yang sangat optimal.

ARI

SHARE

rucikaadmin

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Blog Terkait

BLOG

NEWS

Load More

TERBARU

rucika adalah perusahaan yang bergerak dalam menproduksi dan mengembangkan sistem pengaliran di indonesia dengan mode perpipaan. Untuk harga pipa air dari rucika sangat terjangkau keseluruh masyarakat indonesia.

Scroll to Top